Ketua DPD LDII Kabupaten Gresik : "Silaturrahim terkikis, ini tidak bisa dibiarkan"
Gresik (21/8) - Disrupsi akibat revolusi industri 4.0 bagaikan pisau bermata dua yang memiliki sisi positif dan negatif. Ketua DPW LDII Jawa Tengah (Jateng), sekaligus Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Diponegoro, Singgih Sulistyono mengatakan,"Disrupsi menciptakan shock culture, goncangan budaya. Mengubah bagaimana manusia berbudaya dan berekonomi. Pola komunikasi yang banyak beredar melalui media sosial, menjadikan media sosial ruang publik yang riuh tapi hampa. Diskusi berubah menjadi hoaks dan ujaran kebencian dengan dalih kebebasan berekspresi". Ia juga mengatakan jika disrupsi negatif dari Revolusi Industri 4.0, bisa ditangani dengan prinsip-prinsip masyarakat 5.0 (Society 5.0).
 Â
Singgih menambahkan bahwa, toleransi menjadi sangat penting dalam Society 5.0, “Manisfestasinya adalah silaturrahim, menyambung tali kekeluargaan dan kasih sayang,†ujarnya. Menurut Singgih, saat ini bangsa Indonesia menghadapi cobaan, dengan adanya fenomena keterbelahan sosial atau keterbelahan bangsa akibat komunikasi politik populis, “Dengan menggiatkan silaturrahim berbagai konflik bisa diselesaikan dengan baik,†pungkasnya.Â
  Â
Silaturrahim yang diperkenalkan Islam, tak bertentangan dengan kearifan lokal yang ada di kalangan masyarakat Jawa disebut sebagai seduluran. "Menjadi sedulur itu hidup bersama. Kamu adalah aku yang lain, mereka adalah kami yang lain, berarti kita adalah saudara. Sehingga, jika telah menjadi saudara, tidak akan tega melihat nasib jelek saudaranya,†ucap Antropolog Universitas Diponegoro (Undip) Mudhajirin Thohir.
 Â
Bagi guru besar ilmu Antropologi itu, toleransi memiliki makna berinteraksi dan berkompetisi. Toleransi berbeda dengan kebebasan dan ketidakpedulian. Dengan kata lain, ketika masyarakat bisa bertoleransi itulah bukti kedewasaan dalam kehidupan yang plural.
  Â
Ketua DPD LDII Kabupaten Gresik juga mengemukakan pendapatnya, "Pembiasaan yang terus menerus dilakukan, akan menjadi sebuah budaya yang pada akhirnya akan menjadi sebuah peradaban. Budaya silaturrahim sekarang sudah mulai terkikis, karena merasa gadget sudah bisa mewakilinya. Budaya teposeliro juga mulai terkikis, karena orang lebih asik dengan hp dari pada memperhatikan lingkunganya. Ini tidak bisa dibiarkan terus menerus".
 Penulis : Wiwit lusiana lestari
Berita Terkait
