Budidaya Sorgum Tingkatkan Ketahanan Pangan Lokal, Begini Tanggapan Ketua DPD LDII Kabupaten Gresik
Gresik (30/7) - Perang antara Rusia dengan Ukraina mengakibatkan naiknya harga pangan dunia, utamanya gandum. Makanan pokok penduduk Indonesia umumnya adalah nasi. Namun, tak dapat dipungkiri bahwa sebagian besar penduduk Indonesia gemar mengkonsumsi mi instan dan roti. Yang mana keduanya berbahan dasar dari tepung gandum.
Mengetahui hal tersebut, Ketua Umum DPP LDII, KH. Chriswanto Santoso berpendapat bahwa, ketergantungan Indonesia terhadap impor komoditas pangan harus segera dicarikan solusi. "Meskipun padi dan jagung sudah ditanam secara lokal, namun belum memenuhi swasembada. Apalagi gandum yang belum ditanam di Indonesia", pungkasnya.
DPP LDII mendorong warganya untuk berinovasi dalam bidang pertanian. Baik melalui digitalisasi pertanian maupun diversifikasi pangan. Hal ini selaras dengan pengembangan tanaman sorgum oleh Ketua DPD LDII Kabupaten Tanah Laut (Tala), Kalimantan Selatan, Anton Kuswoyo. Menurutnya, tanaman sorgum dapat menjadi bahan pangan alternatif pengganti karbohidrat.
Kandungan karbohidrat pada sorgum mencapai (74,63 gr/100 gr bahan) lebih tinggi daripada gandum (71,97gr/100 gr bahan). Selain itu, sorgum menjadi peringkat ketiga setelah padi (79,15 gr/100 gr bahan) dan jagung (76,85 gr/100 gr bahan). Yang berarti sorgum dapat digunakan sebagai pangan pokok selain padi.
"Dalam hal budidaya sorgum juga dapat tumbuh di lahan yang kering dan tidak terlalu subur. Tala termasuk daerah lumbung jagung nasional. Jika jagung cocok, apalagi sorgum", ungkap Anton yang juga Dosen Prodi Pakan Ternak, Politeknik Negeri Tanah Laut.
Menurut Anton, cara memasak sorgum juga sama seperti memasak beras di magic jar. "Riset saya adalah tentang strategi budidaya sorgum, mengombinasikan Sorgum dengan tumbuhan lokal, serta limbah pertanian menjadi pakan kambing. Jadi batang dan daun sorgum untuk pakan kambing, sedangkan bijinya untuk pangan manusia", pungkasnya.
Ketua umum DPD LDII Kabupaten Gresik juga menambahkan, " Tanaman sorgum mengingatkan kita di Gresik tempo dulu, banyak petani ketika kemarau menanamnya. Dan biasa disebut "jagung pari", tapi seiring perkembangan waktu, tanaman jagung pari ditinggalkan. Karena waktu itu, sulit pemasarannya dan warga tidak terlalu terampil mengolah bahan makanan sorgum. Tapi ada sisi yang cukup diminati, khususnya anak-anak saat itu adalah batang pohonnya yang manis seperti tebu".
Penulis : Wiwit lusiana lestari
Berita Terkait
