LDII berQurban untuk sesama
Jakarta (26/9). Umat Islam di seluruh dunia pada 10 Dzulhijjah merayakan Idul Adha atau Hari Raya Kurban. Peringatan Idul Adha dirayakan mayoritas umat Islam di seluruh Indonesia pada 24 September 2015 lalu. Selain sebagai ritual untuk mengenang keikhlasan dan ketaqwaan Nabi Ibrahim, Idul Adha juga sebagai puncak ibadah haji.
Pada peringatan Idul Adha kali ini, menjadi tantangan tersendiri bagi umat Islam di Indonesia. Pasalnya, krisis ekonomi global yang juga membelit Indonesia, mengakibatkan daya beli menurun. Hal itu, bisa mengakibatkan daya beli menurun, sekaligus berimbas kepada kuantitas hewankurban yang mampu dibeli oleh masyarakat, “Ibadah kurban tak bisa dinilai dengan uang. Ini soal ketaqwaan dalam menjalankan ibadah,” papar Ketua Umum DPP LDII, Prof. DR. Ir. KH Abdullah Syam, M.Sc.
Ia menyitir sebuah sabda Rasulullah yang dinukil dari hadits Ibni Majjah dan Tirmidizi, “Tidak ada amalan anak cucu Adam pada Hari Raya Kurban yang lebih disukai Allah melebihi dari mengucurkan darah (menyembelih hewan kurban), sesungguhnya pada hari kiamat nanti hewan-hewan tersebut akan datang lengkap dengan tanduk-tanduknya, kuku-kukunya, dan bulu- bulunya. Sesungguhnya pahalanya dicatat Allah sebelum darahnya sampai ke tanah, maka ikhlaskanlah menyembelihnya.”
Menurut Abdullah Syam, menyembelih kurban – sesuai hadist Rasulullah – pada 10 Dzulhijjah merupakan amalan yang paling disenangi Allah, yang hanya bisa ditandingi dengan seseorang yang menjual seluruh harta bendanya untuk membela agama Allah, lalu pulang tinggal nama, “Melihat berbagai keutamaan dan pahala berkurban, warga LDII menabung setahun sebelumnya. Agar bisa meraih pahala yang besar tanpa terhalang krisis,” papar Syam.
Di lain sisi, bagi DPP LDII, Hari Raya Kurban merupakan saat berbagi dan menjadi perekat bangsa, di mana semua orang menikmati daging sapi dan kambing yang tidak setiap hari dikonsumsi kebanyakan rakyat Indonesia, “Semua lapisan masyarakat dapat menikmati kebahagiaan dengan berbagi daging kurban, baik yang kaya maupun yang miskin,” ujar Abdullah Syam.
Apalagi di tengah krisis ekonomi, yang mengakibatkan daya beli menurun, masyarakt bisa menikmati daging. Penyebaran daging kurban mengkibatkan masyarakat bisa menikmati makanan bergizi, di tengah melambungnya harga daging. Dengan demikian berkurban merupakan ibadah sekaligus wujud kepedulian sosial umat Islam.
Berita Terkait
