Sabtu, 17 Oct 2026
Terbaru
Perkuat Pemahaman Organisasi, Ketua LDII Gresik Sampaikan Materi dalam Pengajian Umum di Menganti  •  Bagian Hukum dan HAM LDII Gresik Berikan Sosialisasi Hukum PPA dan Bahaya Judol  •  LDII Gresik Jadi Tuan Rumah Pelatihan Rukyatul Hilal DPW LDII Jatim Utusan Se Jatim  •  Ketua DPD LDII Gresik Hadiri Gresik Bersholawat Bersama Habib Ali dan KH Anwar Zahid  •  KBIHU Minhajurrosyidin Gresik Gandeng Kemenhaj, Sosialisasikan Informasi Haji Terbaru  •  DPD LDII Gresik Perkuat Soliditas PC dan PAC Balong Panggang-Benjeng melalui Konsolidasi Organisasi  •  LDII Gresik Hadiri Sosialisasi Pelaksanaan Perlindungan Sosial Digital  •  LDII Jatim dan Dinkes Jatim Launching Cek Kesehatan Gratis Serentak, Gresik Jadi Studio Utama  •  LDII Gresik Terima Kunjungan DPD Partai Golkar, Perkuat Silaturahim dan Komunikasi  •  Wakil Sekretaris DPD LDII Gresik Hadiri Pembinaan Tata Kelola Arsip Ormas  •  Perkuat Pemahaman Organisasi, Ketua LDII Gresik Sampaikan Materi dalam Pengajian Umum di Menganti  •  Bagian Hukum dan HAM LDII Gresik Berikan Sosialisasi Hukum PPA dan Bahaya Judol  •  LDII Gresik Jadi Tuan Rumah Pelatihan Rukyatul Hilal DPW LDII Jatim Utusan Se Jatim  •  Ketua DPD LDII Gresik Hadiri Gresik Bersholawat Bersama Habib Ali dan KH Anwar Zahid  •  KBIHU Minhajurrosyidin Gresik Gandeng Kemenhaj, Sosialisasikan Informasi Haji Terbaru  •  DPD LDII Gresik Perkuat Soliditas PC dan PAC Balong Panggang-Benjeng melalui Konsolidasi Organisasi  •  LDII Gresik Hadiri Sosialisasi Pelaksanaan Perlindungan Sosial Digital  •  LDII Jatim dan Dinkes Jatim Launching Cek Kesehatan Gratis Serentak, Gresik Jadi Studio Utama  •  LDII Gresik Terima Kunjungan DPD Partai Golkar, Perkuat Silaturahim dan Komunikasi  •  Wakil Sekretaris DPD LDII Gresik Hadiri Pembinaan Tata Kelola Arsip Ormas  • 

Mengenang KH. Kasmudi Asshidqi

Oleh: KIM DPD Senin, 18 Oktober 2021 - 14:40:35 WIB Dibaca: 81 kali 3 menit baca
Mengenang KH. Kasmudi Asshidqi
Mengenang KH Kasmudi Asshidqi, Wanhat DPP LDII yang Rendah Hati
*
KH. Kasmudi Asshidqi dikenal sebagai ulama yang tekun, teliti, dan akurat dalam menjawab persoalan hukum yang menyangkut agama. Sejak kecil ia terbiasa membaca dan menghabiskan sebagian besar usianya di pondok pesantren. 

Warga LDII di seluruh tanah air berduka atas wafatnya Ketua Dewan Penasehat DPP LDII, KH Kasmudi Asshidqi, pada Senin (11/9). Ia juga dikenal sebagai pendiri Pondok Pesantren Minhajurrosyidin, Kebomas, Gresik, Jawa Timur dan Ketua Majelis Taujih Wa Al Irsyad DPP LDII. 

“Kami kehilangan sosok guru yang menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk mengkaji Alquran dan Alhadist, dan memecahkan berbagai persoalan yang berkaitan dengan hukum agama. Kesederhanaan dan ketekunan beliau mempelajari agama, menjadi teladan bagi seluruh warga LDII,” ujar Ketua Umum DPP LDII KH Chriswanto Santoso, saat takziyah di rumah duka di Gresik. 

KH Kasmudi lahir di Banyumas pada 4 Januari 1949. Orangtuanya, H. Muhammad Faqih dan Hj Mutmainah dan keluarga besarnya, memiliki tradisi Muhammadiyah yang kuat. Mereka berharap anak keempat dari 10 anaknya itu, kelak menjadi seorang ulama atau kyai. 

“Alasan orangtua saya dengan menjadi kyai, agar hidup menjadi lebih bermanfaat,” ujar KH Kasmudi kepada Nuansa Persada dalam sebuah wawancara beberapa tahun silam. Orangtuanya bercerita, pada saat zaman penjajahan Belanda, umat Islam kesulitan belajar Alquran dan Alhadits. Orangtua KH Kasmudi juga mengatakan, suatu saat umat Islam dengan mudah mempelajari ayat dan hadits, untuk itu kehadiran seorang ulama sangat penting untuk menuntun umat Islam. 

Keinginan orangtuanya agar KH Kasmudi menjadi ulama, diulang kembali saat ia sunat, “Setelah itu, saya dimasukkan pondok pesantren di Madrasah Wathoniah Islamiah (MWI), di Kebarongan, Banyumas,” ujarnya. Dari kecil hingga dewasa, kehidupan KH Kasmudi dihabiskan di MWI. Namun ia juga mengenyam pendidikan formal, hingga meraih sarjana ekonomi dan megister akuntansi. 

Orangtuanya mendorong menjadi ulama, salah satunya karena melihat kebiasaan anaknya itu. Sejak kecil, KH Kasmudi lebih gemar membaca buku ketimbang bermain, “Saya membaca buku apa saja, dari buku-buku agama, hingga politik, dan ekonomi,” ujarnya. Ia dikenal memiliki hafalan yang kuat. Untuk menghafal pelajaran, ia biasanya menulis pada selembar kertas kecil. Kemudian kertas itu ia bawa ke manapun pergi. 

“Dengan kertas itu saya menghafal pelajaran. Sambil jalan, sambil bersepeda. Saya pegang tangan kiri kertasnya, tangan kanan megang setir,” kenangnya. Menurutnya, ia tak selalu belajar sendiri, “Saya melihat teman yang rajin belajar sendiri. Sukanya menyendiri, tapi malah tidak naik kelas,” ujarnya. Ia mengambil pelajaran, belajar sendiri hanya membuat seseorang memahami dari kacamatanya saja, tetapi dengan belajar kelompok bisa saling mengkoreksi satu sama lain bila ada yang salah. 

Pesan orangtuanya agar ia terus menegakkan Alquran dan Alhadist menguatkan tekadnya untuk terus mengajar dan berdakwah. Untuk persoalan umat yang berkaitan dengan agama, ia meletakkan pada Alquran dan Alhadits, ijtihad serta qiyas dari para ulama, “Saya dinasehati oleh guru saya, bila membenarkan atau menyalahkan sebuah perkara harus dari Alquran dan Alhadist, jangan menurut informasi-informasi yang ada dalam masyarakat umum,” pungkasnya. 

KH Kasmudi juga dikenal sebagai entepreneuer, untuk menjalankan usahanya ia selalu mengedepankan berdoa, kemudian bekerja. Ia beralasan, dengan berdoa akan mendapatkan ilham yang terbaik untuk melaksanakan segala sesuatu, “Saat berdoa, mintalah agar bisa infak dan sedekah yang banyak, dengan begitu rezekinya juga ikut banyak,” ujarnya.  

Kyai yang serius namun suka bercanda itu telah berpulang. Ketelitian, ketekunan, dan ketajaman analisisnya dalam memecahkan persoalan umat, menjadi teladan bagi para ulama muda lainnya, warga LDII, dan para santri. (*/)
Berita Terkait