Puasa Asyura di Bulan Muharram, Simak Pahala dan Keutamaannya
Puasa Asyura, tepatnya pada hari kesepuluh di bulan Muharram, merupakan ibadah yang sudah lama dilakukan sebelum Islam. Pada masa jahiliyyah, suku Quraisy sudah mleaksanakan puasa ini. Selama 13 tahun kenabian di Mekkah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam beserta umat Islam pun mengerjakannya.
Hal ini tertera dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh ’Aisyah Radhiyallahu ’anha, beliau berkata :
كَانَ يَوْم٠عَاشÙورَاءَ تَصÙومÙÙ‡Ù Ù‚ÙØ±ÙŽÙŠÙ’Ø´ÙŒ ÙÙÙ‰ الْجَاهÙÙ„Ùيَّة٠، وَكَانَ رَسÙول٠اللَّه٠صلى الله عليه وسلم يَصÙومÙÙ‡Ù ØŒ Ùَلَمَّا قَدÙÙ…ÙŽ الْمَدÙينَةَ صَامَه٠، وَأَمَرَ Ø¨ÙØµÙيَامÙÙ‡Ù
Artinya: “Orang-orang Quraisy biasa berpuasa pada hari Asyura di masa jahiliyyah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun melakukannya pada masa jahiliyyah. Tatkala beliau sampai di Madinah beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan umatnya untuk berpuasa.”(HR. Bukari)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu mementingkan untuk dapat mengerjakan puasa Sunnah pada tanggal 10 Muharram atau yang dikenal dengan puasa Asyura. Bahkan beliau bercita-cita menambah satu hari lagi, yakni tanggal 9 Muharram. Namun, beliau belum sempat melakukannya karena wafat menghadap Allah SWT. Sebagaimana riwayat hadits berikut ini:
صَامَ رَسÙولَ اللَّه٠صَلَّى اللَّه٠عَلَيْه٠وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشÙورَاءَ وَأَمَرَ Ø¨ÙØµÙيَامÙه٠قَالÙوا يَا رَسÙولَ اللَّه٠إÙنَّه٠يَوْمٌ ØªÙØ¹ÙŽØ¸Ù‘ÙÙ…Ùه٠الْيَهÙود٠وَالنَّصَارَى Ùَقَالَ رَسÙÙˆÙ„Ù Ø§Ù„Ù‡ÙØ¹ صَلَّى Ø§Ù„Ù‡ÙØª عَلَيْه٠وَسَلَّمَ ÙÙŽØ¥ÙØ°ÙŽØ§ كَانَ الْعَام٠الْمÙقْبÙل٠إÙنْ شَاءَ اللَّه٠صÙمْنَا الْيَوْمَ Ø§Ù„ØªÙ‘ÙŽØ§Ø³ÙØ¹ÙŽ Ù‚ÙŽØ§Ù„ÙŽ Ùَلَمْ يَأْت٠الْعَام٠الْمÙقْبÙÙ„Ù ØÙŽØªÙ‘ÙŽÙ‰ تÙÙˆÙÙÙ‘ÙÙŠÙŽ رَسÙولَ اللَّه٠صَلَّى اللَّه٠عَلَيْه٠وَسَلَّمَ
Artinya : “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada hari Asyura dan memerintahkan berpuasa. Para shahabat berkata:”Ya Rasulullah, sesungguhnya hari itu diagungkan oleh Yahudi.” Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Di tahun depan insya Allah kita akan berpuasa pada tanggal sembilan.”, tetapi sebelum datang tahun depan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah wafat.”(HR. Muslim)
لَئÙنْ بَقÙيت٠إÙÙ„ÙŽÙ‰ قَابÙل٠لأَصÙومَنَّ Ø§Ù„ØªÙ‘ÙŽØ§Ø³ÙØ¹ÙŽ
Artinya: “Jika aku masih hidup pada tahun depan, sungguh aku akan melaksanakan puasa pada hari kesembilan.”(HR. Muslim)
Berita Terkait
